Dollar Australia
Dolar AustraliaAUD atau A$, adalah mata uang resmi Australia, termasuk Pulau Natal, Kepulauan Cocos, Pulau Heard dan Kepulauan McDonald dan Pulau Norfolk, serta negara-negara-pulau merdeka Kiribati, Nauru dan Tuvalu. Mata uang ini dicetak dan diatur penggunaannya oleh Reserve Bank of Australia, dan diperkenalkan pada 14 Februari 1966 untuk mengganti Pound Australia, ketika negara ini mendesimalkan mata uangnya.
Dolar Australia adalah mata uang yang paling diperdagangkan keenam di pasar valas dunia (setelah dolar AS, yen, euro, pound sterling dan dolar Kanada) dan mencakup sekitar 4–5 persen dari transaksi valas dunia.
Satu dolar Australia dibagi kepada 100 sen. Koin dengan nilai terkecil saat ini adalah lima sen.
Semua uang kertas dolar Australia dibuat dari bahan polimer.

Info Penukaran Hubungi :
Head Office :
Jl. Gajah Mada No. 3-5 Blok A/20 Jakarta
Hotline : (+6221) 2263 7282, (+6221) 2263 7696, (+6221) 2263 8765
Whatsapp : 0812 6111 4222, 0813 6536 2302,info@haihaivalasindo.com 
 

Pengedar Dollar Palsu Senilai Setara Rp 9,8 Miliar

Polres Metro Tangerang Kota meringkus KR, tersangka pengedar uang dollar AS palsu.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol Sugeng Hariyanto mengatakan, pengungkapan kasus itu berawal dari informasi masyarakat bahwa tersangka sering menurunkan banyak koper besar di rumah kontraknnya.

Polisi kemudian mendatangi kontrakan pelaku di Jalan Raya Salembaran Kosambi, Tangerang pada 11 Juli 2020 dan melakukan penggeledahan.

Polisi Tangkap Pengedar Dolar Palsu Senilai Setara Rp 9,8 Miliar ...

“Ditemukan satu buah koper warna hitam merek Nevada yang di dalamnya berisikan uang palsu dollar Amerika (Serikat) pecahan 100 USD sebanyak 6.800 lembar,” kata Sugeng dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (22/7/2020).

Lembaran dollar palsu tersebut, lanjut sugeng, ditemukan masih dalam keadaan belum dipotong. Di lokasi juga ditemukan banyak barang bukti lainnya, yakni empat boks berisi uang dollar palsu dan satu koper tambahan berisi tepung terigu dan sisa kapas. “Nilai yang ada dari barang bukti ini bila dikurskan dengan nilai kurs rupiah total Rp 9,8 miliar,” kata dia. Tersangka KR melakukan aksi pencetakan uang dollar palsu tersebut bersama pelaku lainnya yakni PR yang masih dalam pengejaran polisi. KR dijerat dengan Pasal 244 Kitab Undang-undang Hukum Pidana Subsider Pasal 245 dengan ancaman pidana 15 tahun penjara.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Polisi Tangkap Pengedar Dolar Palsu Senilai Setara Rp 9,8 Miliar di Tangerang”, https://megapolitan.kompas.com/read/2020/07/22/21590621/polisi-tangkap-pengedar-dolar-palsu-senilai-setara-rp-98-miliar-di.
Penulis : Singgih Wiryono
Editor : Egidius Patnistik

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) stagnan di pembukaan perdagangan pasar spot hari ini, setelah membukukan pelemahan 0,17% kemarin.

Pada Selasa (14/7/2020), US$ 1 dibanderol Rp 14.520 /US$ di pasar spot. Rupiah sama persis dengan penutupan perdagangan kemarin.

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pada pukul 12:30 WIB

Mengawali perdagangan dengan stagnan di Rp 14.000/US$,

Nilai tukar rupiah melemah tanpa perlawanan melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin kemarin. Mengawali perdagangan dengan stagnan di Rp 14.000/US$, rupiah tidak sekalipun menyentuh zona hijau, hingga akhirnya melemah 0,43% di Rp 14.120/US$.

Pada hari ini, Selasa (23/6/2020) rupiah tampaknya siap “Melonjak”, melihat sentimen mood pasar yang cukup bagus. Lonjakan kasus pandemi penyakit Covid-19 yang terjadi di China, Australia, Jerman, dan AS membuat sentimen pelaku pasar memburuk kemarin, dan membuat rupiah terpukul.

Tetapi nyatanya sentimen pelaku pasar tak buruk-buruk amat, bursa saham AS (Wall Street) berhasil menguat pada perdagangan Senin kemarin.Penguatan kiblat bursa saham dunia ini tentunya memberikan angin segar ke pasar Asia pagi ini. Sentimen pelaku pasar yang bagus akan menjadi modal bagi rupiah untuk kembali menguat.

Secara teknikal, rupiah berada dalam fase konsolidasi sejak dua pekan lalu, dan kembali berada di atas level psikologis Rp 14.000/US$. Fase konsolidasi semakin terlihat setelah di awal pekan lalu rupiah membentuk pola Doji.
Posisi pembukaan pasar dan penutupan pasar Senin (15/6/2020) sama di Rp 14.050/US$, dan membentuk ekor (tail) yang hampir seimbang ke atas dan bawah. Secara teknikal, rupiah disebut membentuk pola Doji, dan berarti pasar sedang ragu kemana arah pasar selanjutnya.Terbukti, setelah membentuk Doji, rupiah tidak banyak banyak bergerak, sebelum mengalami spike Jumat lalu.Tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah mulai berkurang melihat indikator stochastic pada grafik sudah keluar dari wilayah jenuh jual (oversold).
Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik naik. Dalam hal ini, USD/IDR berpeluang naik, yang artinya dolar AS berpeluang menguat setelah stochastic mencapai oversold.
Resisten (tahanan atas) terdekat berada di Rp 14.150/US$, selama tertahan di bawah level tersebut rupiah berpeluang menguat menuju level psikologis Rp 14.000/US$.
Sementara jika resisten ditembus, rupiah berpeluang melemah menuju Rp 14.300/US$.
Untuk jangka lebih panjang, peluang rupiah ke Rp 13.565/US$ yang merupakan Fibonnaci Retracement 100% masih terbuka, selama bertahan di bawah Rp 14.730/US$ (Fibonnaci Retracement 61,8%).
Fibonnaci Retracement tersebut ditarik dari level bawah 24 Januari (Rp 13.565/US$) lalu, hingga ke posisi tertinggi intraday 23 Maret (Rp 16.620/US$).
rpvsusd
USD Rp 14.010/US$, menguat 0,11% di pasar spot, melansir data Refinitiv

Nilai tukar rupiah menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin, tetapi masih tertahan di atas level “keramat” atau psikologis Rp 14.000/US$. Padahal sebelumnya mata uang Garuda cukup meyakinkan menguat 0,36% ke Rp 13.975/US$ beberapa menit sebelum perdagangan ditutup. 

Namun di menit-menit akhir, penguatan rupiah terpangkas dan menutup perdagangan Kamis di level Rp 14.010/US$, menguat 0,11% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Secara teknikal, rupiah berada dalam fase konsolidasi sejak pekan lalu, meski kembali berada di atas level psikologis Rp 14.000/US$. Fase konsolidasi semakin terlihat setelah di awal pekan.

Posisi pembukaan pasar dan penutupan pasar Senin (15/6/2020) sama di Rp 14.050/US$, dan membentuk ekor (tail) yang hampir seimbang ke atas dan bawah. Secara teknikal, rupiah disebut membentuk pola Doji, dan berarti pasar sedang ragu ke mana arah pasar selanjutnya.

Terbukti, setelah membentuk Doji, rupiah tidak banyak bergerak dalam 2 hari sebelumnya, dan gagal bertahan di bawah Rp 14.000/US$ kemarin.

Indikator stochastic pada grafik sudah keluar dari wilayah jenuh jual (oversold), sehingga tekanan jual rupiah menjadi berkurang.

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik naik. Dalam hal ini, USD/IDR berpeluang naik, yang artinya dolar AS berpeluang menguat setelah stochastic mencapai oversold.

Level psikologis Rp 14.000/US$ menjadi kunci pergerakan hari ini, selama tertahan di atasnya, rupiah berisiko melemah ke Rp 14.150/US$ sampai Rp 14.300/US$.

Sebaliknya jika mampu kembali dijebol, rupiah berpeluang menguat ke Rp 13.920/US$.

Sementara untuk jangka lebih panjang, peluang rupiah ke Rp 13.565/US$ yang merupakan Fibonnaci Retracement 100% masih terbuka, selama bertahan di bawah Rp 14.730/US$ (Fibonnaci Retracement 61,8%).

Fibonnaci Retracement tersebut ditarik dari level bawah 24 Januari (Rp 13.565/US$) lalu, hingga ke posisi tertinggi intraday 23 Maret (Rp 16.620/US$).

Secara fundamental, rupiah langsung melesat ke bawah Rp 14.000/US$ kemarin setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan menurunkan suku bunga acuan 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,25%. Pemangkasan suku bunga tersebut masih akan menjadi sentimen positif bagi rupiah pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (19/6/2020).

Tidak memangkas suku bunga, BI juga membuka peluang untuk kembali menurunkan suku bunga ke depannya. Ini karena tekanan inflasi domestik yang rendah, tekanan eksternal yang mereda, dan kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.

Dengan diturunkannya suku bunga tentunya berdampak bagus bagi perekonomian Indonesia yang sedang merosot. Penurunan suku bunga BI diharapkan akan turut menurunkan suku bunga kredit.

Suku bunga kredit yang lebih rendah tentunya akan menarik bagi dunia usaha maupun rumah tangga untuk mengambil pinjaman, sehingga roda perekonomian kembali berputar. Rupiah pun mendapat tenaga untuk kembali menguat.

Meski demikian, sentimen negatif dari perkembangan pandemi penyakit virus corona (Covid-19) di China cukup membebani sentimen pelaku pasar yang membuat rupiah gagal bertahan di bawah Rp 14.000/US$ kemarin. Selain itu Indonesia kini juga menjadi negara dengan kasus Covid-19 terbanyak di ASEAN.

Sumber Berita

ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianJapanese